Pemuda dan Speaker

Sama seperti malam-malam biasanya, segelas kopi panas, sebungkus kretek, dan sekotak speaker kecil pemutar musik. Seorang pemuda duduk disebuah kursi dengan sejuta hayalan yang ada dikepalanya. Sepanjang malam hal seperti itu terus terulang dalam beberapa malam yang dilaluinya. Tak ada yang istimewa dengan malam-malam itu, kecuali pada speaker kecilnya yang selalu mengikutinya dimanapun dia berada. Entah ada apa denga speaker itu. Kalaupun ada seseorang yang hendak mencuri speaker itu, harga paling mahal jika dijual ke pasar loak paling banter sekitar dua lembar uang kertas  lima ribuan.

Dia adalah sesosok pemuda yang pendiam yang kecanduan pada batang-batang kretek yang setiap waktu menggerogoti kerongkongannya dengan racun-racun yang dikepulkannya dari mulutnya itu. Ia sangat jarang bertegursapa dengan orang-orang disekelilingnya, bukan karena ia seorang yang anti sosial atau apapun yang bisa dipikirkan orang-orang tentang dirinya. Sungguhpun ia telah bergelar sarjana yang dengan itu orang tuanya bersusah payah mengeluarkan biaya mahal agar ia bisa disebut sarjana. Namun malam dengan segelas kopi panas, sebungkus kretek dan sekotak speaker terus saja seperti itu. Dengan hal-hal yang sedemikian itu tidak lantas menjadikan ia sebagai sesosok pemuda tanpa harapan yang nyaris tak punya masa depan. Jika untuk membicarakan kisahnya, sungguh orang akan bosan mendengarkannya.

Sementara ia terus merenung, speaker it uterus berdendang sepertinya tau apa yang sedang dipikirkan oleh sang pemuda. Ternyata dengan sifatnya yang seperti itu ia dibuat resah dengan pikiran-pikirannya itu. Pikiran yang terus mengganggu malam dan speakernya.dan ternyata ia sedang memikirkan lingkungannya, masyarakat desanya, masa depannya, dan kisah hatinya.

Malam itu hujan turun bersama dengan kegelisahannya akan pikiran-pikirannya itu. Ia terus berpikir bagaimana agar ia dapat membantu masyarakat didesanya tentang kejadian yang banyak dialami oleh desa-desa lain seperti yang dialami oleh desanya saat ini. Dimana desa tempat ia dilahirkan, desa yang dahulu udaranya terasa sejuk , orang-orang bercocok tanam dikebun-kebun mereka dan dapat memanen hasilnya pada saat musim panen. Namun kini desa itu mulai berubah, berubah keadaannya, baik dari udaranya maupun dari masyarakatnya. Ya…tambang-tambang itu. Mereka telah merubah segalanya. Udara jadi terasa panas setiap harinya, masyarakat desa tidak lagi memiliki lahan untuk menanam diladang. Tambang-tambang itu telah merubahnya, menyulapnya menjadi kebun-kebun uang bagi mereka. Masyarakat yang dengan pendidikan mini itu telah dirubah pola pikirnya denga uang yang tidak seberapa untuk membiayai hidup mereka dan keluarga mereka.

Pemuda itu masih terus berpikir mengapa ada orang-orang yang dikatakan berpendidikan rela mengorbankan desanya, masyarakatnya, dan lingkungannya dengan melakukan persekutuan dengan para pemilik-pemilik tambang itu untuk membinasakan desanya, tempat orang tuanya bercocock tanam, tempat orang tuanya melahirkannya. Apakah mereka telah sama dengan para masyarakat desa yang minim pendidikannya dan dipaksa menjadi romusa untuk menghancurkan desa mereka sendiri. Belum habis pemuda itu berpikir, ada lagi birokrasi daerah yang dipilih oleh masyarakat desa justru malah menjual desa yang telah memilihnya sebagaimana percayanya orang-orang desa kepadanya. Apakah juga ia telah sama dengan orang-orang berpendidikan atau dengan masyarakat yang minim pendidikan itu. Kasihan masyarakat-masyarakat didesa itu, mereka saling meracau sesama mereka antara masyarakat yang direbut lahan penghidupannya dengan masyarakat minim pendidikan yang telah menjadi romusa oleh para pemilik-pemilik tambang itu.belum lagi dengan orang-orang berpendidikan dan birokrat-birokrat didesa itu.

Apakah pemuda dengan speakernya telah meracau pula sampai-sampai ia pusing dengan terus menerus memikirkan hal itu. Sungguh lama pemuda itu berpikir, sampai-sampai speaker itu hampir mati karena kehabisan daya. Speaker itu sepertinya telah letih menemani malamnya dengan pikiran-pikirannya itu.

Daerah itu ada disini.

Ardian Artha. S.Ip

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s