Cinta dalam Segulung Sinonggi


"Woy..! Standaaar..!! standaaar..!" suara bariton seorang pengendara motor memecah di tengah riuh kendaraan pagi, sebelum akhirnya si pengendara menyalip laju sepeda motor La Ege.
La Ege panik, menunduk ke samping memeriksa standar motor Smash kreditannya. Tanpa menyadari dari arah berlawanan mobil tangki melaju kencang. Motor La Ege pun oleng, bergerak zig-zag menghindar, nyaris menabrak pembatas jalan. Perempuan bertubuh subur di boncengannya menjerit histeris.
La Ege menghela nafas setelah berhasil menguasai situasi. Motornya berhenti di trotoar. Sumpah serapah serta merta meluncur deras dari bibir bergincu tebal perempuan di boncengannya.
"bergayamu bawa motor deh..!" pekik si perempuan, sembari menampar-nampar punggung La Ege kesaL.
"Valentino Rossi ko kah..?" berondongnya sinis. Merah padam wajahnya penuh murka. Segaris urat menyembul vertikal di jidatnya.
"Maaf, tanta..! sa tidak sengaja kasian..!"
"Ndada maaf bagimu..! hampir saja ko bikin saya kayak istrinya Saipul Jamil!" sungutnya lagi setengah berteriak. Orang-orang mulai berdatangan. Ada yang ingin melerai, ada yang ingin mengetahui kronologis peristiwa, ada pula yang sekedar berkumpul meramaikan suasana sebagaimana tipikal orang Indonesia pada umumnya.
"Tidak sengaja kunae Tantaaaa..." La Ege terus menghiba.
"Ah, Sudahmi..! Nda jadi sa pergi di lorong Jati deh. Turun di pasar baru sini saja..!" Si perempuan bergegas turun dari boncengan. Bumi bergoncang nol koma sepersekian skala richter."Apakah maksudnya tadi itu orang berteriak standar-standar..? sa tidak menger..!" tanyanya mengernyit, masih dengan nada ketus. Seraya merogoh dompetnya.
"Oh, anu Tanta.. saya lupa kasih naik standar motorku. Hehe..". jawab La Ege keki.
"Ooo.. sa kira dia bilangi mukamu standar..!" sahut si perempuan sambil berlalu, setelah sebelumnya melemparkan dua lembar uang seribu rupiah lusuh ke atas jok motor.
"Bappanyaeee..! bayar dua ribu ji lagi, sombongnya minta ampun..!" maki La Ege lirih, tapi hanya dalam hati. Tentu lain soal jika makian itu dilafalkan dengan bersuara.

***

"Hampirmi ko celaka, teman..! ini pasti gara-gara ko melamunkan lagi Nurmiati..!" tebak Daeng pudding, rekan La Ege sesama pengojek, saat berkumpul rehat di pangkalan.
"Bohama.. nama cewekmu kah itu Nurmiati..? sa kira nama bus antar kota..!" Jusman menimpali, sambil tertawa terkekeh.
"Benner Jus, saya kira Nurmiati itu temennya Putri Unaaha dan Cahaya Ujung. Hahaha..!" Margono ikut bersuara dengan dialek medok khas Jawa Timuran. Pemuda transmigran asal SP 1 ini memang paling tanggap merespon jika ada celaan yang ditujukan pada La Ege.
Boleh dikata, La Ege adalah rekan seprofesi sekaligus saingan baginya dalam perkara wanita, mengingat hanya ia dan La Ege saja yang masih berstatus bujangan di antara semua pengojek di pangkalan ini. Jika berkenalan dengan wanita, ia dan La Ege saling menyalip di garis depan. Bedanya, La Ege lebih sering pasrah dengan orisinalitas nama pemberian orang tua. Margono justru sebaliknya. Ia kerap merubah nama dari Margono menjadi Morgan. Mirip personil Boyband.

La Ege menghisap dalam-dalam rokok Pensilmas-nya, nyaris hingga ke filter. Suara kretek berderak layaknya alang-alang terbakar. Menghembuskan asapnya, lalu meneguk tandas sisa Teh gelas.
"plak..!!" Kartu domino dobel enam dibanting olehnya ke atas bale-bale pangkalan. Daeng pudding bersungut dikandang paksa.
"Iyo belaeee.. Itu cewe bebetul dia kasih hilang konsentrasiku berkarir..!".

"Mengojek kobilang berkarir..? hepuuu.. sembarang saja kau..!" protes Jusman. Bapak tiga anak ini agak sensitif jika berkenaan dengan etika pekerjaan. Berbeda dengan pengojek lainnya. Seperti Margono atau Daeng Pudding, misalnya. Pengojek-pengojek yang hanya berharap dari skill ngojek setelah tambang emas Bombana diisolasi oleh pemerintah dengan dalih penertiban. Pengojek-pengojek yang hanya mengandalkan kekuatan fisik yang prima sebab tak punya latar belakang akademis yang memadai. Jusman adalah pengojek intelek. Ia sarjana ekonomi yang sempat mengenyam pendidikan pasca sarjana, walau akhirnya memutuskan untuk stop di tengah jalan. Sisa hidupnya kemudian dipenuhi muatan dendam pada birokrasi setelah tiga puluh juta uang hasil jual tanah raib tanpa bekas, dibawa kabur penipu berkedok calo PNS. Sebagai mahasiswa yang juga nyambi jadi pengojek untuk tambahan biaya kuliah, La Ege banyak belajar dari pengalaman hidup Jusman.

"Sudahmi hae, ko kawini saja anaknya orang. Daripada nanti begini..!" Jusman membentuk isyarat gundukan di perutnya. Disambut tawa berderai rekan-rekan seprofesi.
"Eeee.. Ngeri kunae..! Jangan salah omong ko..! sa sayang sekali itu anak, tidak mungkin sa kasih rusak..!" La Ege berkilah serius.
"Iyo tauwwa. Keras pengaruhnya perempuan di..? sudah satu minggumi salihat temanku ini rajin sembahyang..!" goda Daeng Pudding.
"Betul, Daeng. Sudah satu bulan juga saya lihat dia ndak sentuh kameko. Hahaha.." tambah Margono. Gelak tawa kembali membahana di pangkalan ojek. Tak tersirat gurat-gurat kesusahan pada wajah-wajah petarung kehidupan ini. Sungguh kontras dengan kerasnya rahang, legamnya kulit, dan tebalnya varises.

Tawa serta merta terhenti ketika sesosok wanita menenteng barang belanjaan berjalan keluar dari mulut gang tak jauh dari pangkalan. Berlomba-lomba para pengojek itu mengacungkan jari telunjuk ke atas. Mirip anak SD yang rebutan menjawab pertanyaan gampang dari guru sekolah.

***

Seminggu berlalu. Beruntun kabar baik dan kabar buruk datang menghampiri La Ege. Kabar baiknya, Nurmiati gadis pujaannya berulang tahun. La Ege secara resmi akan diperkenalkan kepada orangtua Nurmiati yang berencana datang langsung dari Pondidaha ke kos-kosan Nurmiati untuk merayakan syukuran kecil-kecilan anaknya. Ini momen yang tentunya akan sangat berkesan dan menentukan ritme jalinan asmara mereka ke depannya.

Tapi kabar buruknya, tiba sepucuk surat dari kampung.
"La Ege anakku. Maafkan mamamu yang tidak bisa lagi kirim uang untuk cicilan motormu bulan ini. Bapakmu ditangkap di Buranga karena terlibat kerusuhan. Habis uangku bolak-balik dari Raha gara-gara ini barang. Ditambah lagi hasil panen di Wakuru gagal semua, tidak ada pendapatan. Kasih berhenti dulu kuliahmu sementara, nak. Mama harap kamu ikhlas batalkan urusan skripsimu tahun ini. Cari saja uang untuk biaya hidup. Cari uang makan dan uang sewa kamar kosmu. Kasih kembali motormu di dealer kalau perlu. Mama sudah pasrah. Mama sudah tidak mau terlalu berharap apalagi bermimpi kau jadi sarjana dan pulang kampung membangun Raha. Kubur saja cita-citamu jadi pejabat dan melanjutkan pembangunan jalan Raha-Tampo. Maafkan Mamamu ini. Mama sudah pusing sekali"

Lemas seluruh persendian La Ege membaca surat yang dijemput dari kurir Sagori tersebut. Hanya sepucuk surat itu saja. Tak ada sisipan uang, bahkan sekadar kiriman kue rangginang ataupun ikan teri kacang dalam toples plastik seperti biasa. Lunglai ia meninggalkan pelabuhan. Air mata bercampur debu mengalir membasahi pipinya saat memacu motor menuju kos-kosan di kampus baru. Tak ada firasat atau mimpi buruk sebelumnya akan musibah kecil tapi berefek besar baginya ini.

"lahai lahai.. mekafinooo.." ringtone handphone La Ege berbunyi nyaring. Diabaikannya untuk yang ke sekian kali. Matanya masih serius tertuju pada kalimat demi kalimat secarik surat beramplop coklat. Tenggorokannya tercekat. Masih tak percaya rasanya. Seraya bangkit, memencet saluran air di dispenser, menenggaknya hingga tandas, lalu meraih hape di atas meja. Empat panggilan tak terjawab. Satu SMS.
"Knp kotdk angkat telponQ say? ko bosan mhe dengar suaraQ? z jengkel kau deh"
La Ege panik dan buru-buru mengetik balasan "Tdk ji say. Z lg di jln tadi"
"Truz, ko dmn mhe skrg?" bunyi SMS ke dua.
La Ege membalas "di hatimu sayang". Tersungging sebaris senyum menghantar SMS tersebut di udara, berjuang melawan sinyal dan trafik, sebagaimana perjuangan La Ege melawan getirnya kenyataan hidupnya saat ini.

***

"Bapakku dari Wamengkoli, Om..! kalo mamaku asli Wakuru..! Bapakku orang LSM, kalo mamaku cuma petani..!" tegas dan lugas La Ege menjawab pertanyaan demi pertanyaan seorang lelaki paruh baya berdandan dandy di sebuah ruangan sempit. Sesekali buliran keringat mengembun di dahinya.
Jauh beberapa jam sebelumnya La Ege mempersiapkan pertemuan penting ini dengan sangat detail dan seksama. Kemeja yang paling bagus menurutnya dipercikkan cairan parfum berjudul "malaikat subuh" yang dibelinya dari ikhwan-ikhwan di pelataran mesjid agung. Aromanya menyengat tapi lumayan meredam bau kapur barus dari lemari.

"Begini Nak.. Sebenarnya saya sudah dengar semua dari Nurmiati tentang kamu.." si bapak memperbaiki posisi duduk bersilanya.
"Perlu kamu tau, saya ini bukan orang tua yang mempermasalahkan suku. Karena saya tau yang suka berkelahi di kampus bawa-bawa suku itu hanya orang bodoh. hanya oknum..!" lanjutnya bijak.
"Nah, sekarang saya hanya mau dengar langsung dari kamu. Langsung saja intinya. Betulkah kamu serius dengan anakku?"
Keringat yang tadinya sebatas bergulir, kali ini meluncur deras dari dahi La Ege, jatuh membasahi kelopak matanya. Sejenak ia mengerjap menahan perih. Sejatinya dirinya belum siap dengan pertanyaan sedemikian.
"Insya Allah, Om" jawabnya sekenanya. "Saya tidak bisa janji kasih bahagia anakta, saya cuma bisa berjanji setia".
"Ckckck.." Cicak berdecak di palfon. Entah dari mana kalimat klise nan retoris tersebut tiba-tiba saja keluar dari mulut La Ege. Sempat ia mengutuk diri sendiri, ketika disadarinya kemudian bahwa kalimat tersebut hanya dikutipnya dari sebuah adegan sinetron. Si bapak calon mertua tersenyum lirih. Senyum penuh misteri.

"Pachemu dia ksh gemetar z pwa!"
Dalam situasi kalut tersebut, masih sempat juga La Ege mengirim SMS kepada pujaan hatinya yang tenggelam dalam aroma dapur. Ruangan tempatnya frontal bersama sang calon mertua hanya tersekat dinding tripleks sekenanya. Standar kos-kosan dua ratus ribu perbulan.
"met nah?" Nurmiati membalas singkat.
Tak sampai hitungan jam, sinonggi hangat sudah terhidang di ruang tamu. Berpeluh-peluh Nurmiati menyuguhkan. Sayur daun singkong dan ikan bakar jadi pelengkap.
"silahkan dimakan, Nak!" si bapak calon mertua mempersilahkan.
Inilah sebenarnya saat-saat yang dikuatirkan La Ege. Ia tak begitu gemar pada sinonggi, makanan yang tak diragukan kenikmatannya bagi sementara orang, namun menurutnya dibutuhkan skill tertentu untuk menyantap dan menikmatinya. Kuliner lunak yang bertentangan dengan latar belakangnya, mengingat ia dibesarkan oleh alotnya kasuami.
"kenapa? tidak suka ya?" tanya si bapak, demi melihat La Ege hanya mematung.
"eeh.. suka ji, Pak..!" La Ege kelabakan. Menggulung adonan dan meletakkan di piring berkuah. Menelan buliran kenyal itu dengan paksa. Matanya berkaca-kaca menahan rasa panas yang merambat di tenggorokannya.
"Nah, begitu..." si bapak tersenyum puas. "Kalau kamu memang mau serius sama anakku, kamu juga harus biasakan diri dengan kebiasaan anakku"
"Nurmiati itu.." lanjut si Bapak "kalo naik di Pondidaha, pusing kepalanya kalo tidak mosonggi. Bisa sakit dia kalo tidak ketemu sagu..!"tambahnya.
La Ege hanya tersenyum geli. Pipi Nurmiati merona merah dari balik dinding mendengarnya. "Hepuuu, i aba. Dia bongkar lagi rahasia..!" sungutnya.
"perbedaan itu rahmat, Nak..! Mari kita belajar menyatukan dan menikmati..!" pungkas sang calon mertua kemudian, seolah membaca isi kepala La Ege.
"Makacih sinonggix say. Maaf nah, tdk ada tas hermes hadiah ultah yg z janjikan. Uangx z sdh pake bayar cicilan motorku cian" SMS La Ege, sebelum beranjak pulang.
"Gpp say. I love u"

***

Pondidaha, dua tahun kemudian...
Sebuah kamar tak kurang tiga kali tiga meter, dihias kelambu dan saling-silang warna-warni kertas krep. Wewangian merebak di setiap penjuru. Suara sumbang biduan elekton masih terdengar dari halaman rumah, mengiringi hentakan kaki muda-mudi menari lulo.
Sebuah guci penuh berisi amplop merah jambu, bergambar kalosara bertuliskan aksara "Telenga Saramami".
La Ege sibuk menghapus SMS-SMS ucapan yang hampir memenuhi inbox handphone-nya.
"Selamat menempuh hidup baru untuk sahabatku La Ege,S.Sos dan Nurmiati,SPd. Maaf teman, sy tdk bisa hadir. Doaku menyertaimu. Semoga Sakinah, Mawaddah & Warahmah. by Jusman Ojek. Btw salam dari Margono, dia jg sdh menikah dua bulan lalu di Tinanggea"
Tersungging senyum La Ege membaca SMS terakhir. Sejak sukses jadi sarjana dan kemudian sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai broker tambang di Konsel, ia praktis tak pernah lagi mendengar kabar dari kawan-kawan lamanya di pangkalan ojek Pasar Baru.
"Dari siapa, say?" tanya Nurmiati, yang beberapa jam lalu resmi jadi pasangan hidup yang sah baginya, setelah sighat taklid diteken di depan imam masjid.
"Teman ngojek di Kendari" jawab La Ege singkat. "Alhamdulillah, mereka masih ingatji sama saya" lanjutnya.
Handphone diletakkan di atas bufet. Direngkuhnya istrinya yang masih sibuk membenahi sasak rambut. Malam pun semakin merayap.
"Kamu mau kita bulan madu di mana?"
"Kalo ada uang sih, mauku di Bali say. Lihat-lihat pantai..!"
"di Jatibali mi saja nah..? di sana juga banyak empang. Anggap saja pantai..!"
Nurmiati cemberut, sembari mencubit suaminya manja.

*) Arham Rasyid, cerpenis lahir di Kendari. Penulis dua buah novel remaja terbitan Gramedia Pustaka Utama, dan dua buah buku antologi cerpen terbitan Indie Publishing. Saat ini aktif sebagai penulis virtual (blogger). Tulisan-tulisannya dapat dibaca di www.facebook.com/arhamkendari

2 comments

  1. Salam kenal… ceritanya sangat bagus, sangat menghibur dan banyak pelajaran yang bisa di ambil. Setelah saya baca ternyata kejadian di sekitar kita itu akan semakin hidup bila dituangkan dalam bentuk tulisan yang terstruktur dan rapi… Semoga sukses selalu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s