Seribu Riak Masa Lalu (Hanya Sebuah Fiksi)

Sepertinya malam mulai merangkak untuk menuntaskan puncaknya. Di langit, seiris bulan masih merah tua, menggantung resah di sudut jendela kamarku, di antara rerantingan kering. Biasanya malam seperti ini sudah ku lewatkan dalam mimpiku setelah beberapa menit melakukan tilawah sambil berharap tak kan telat bangun untuk shalat malam. Tapi malam ini keinginanku untuk tidur kurang kompak dengan mataku yang begitu sulit terpejam. Ku coba mengeja kembali setiap detik yang kulalui dengan Vivi siang tadi ketika aku berkunjung ke rumahnya.

“Anti tahu mengapa aku berencana mengambil spelialis saraf nantinya?” Ucap vivi sambil menyuguhkan es jeruk. Dia sudah menikah beberapa bulan yang lalu & sekarang sedang hamil tua tapi masih berniat untuk melanjutkan studi kedokterannya ke jenjang yang lebih tinggi . Sebelum menikah, masa-masa kuliahnya dia habiskan bersamaku di sebuah rumah yang terlalu besar untuk ku tempati sendiri. Ayah dan mama hanya beberapa kali dalam sebulan mengunjungiku, ada bisnis yang butuh perhatian mereka di Kendari. Aku mengenal Vivi pada acara mentoring gabungan kampus kami di semester awal. Vivi dengan pembawaannya yang ceria dan supel, sedang aku dengan karakter yang pendiam dan agak tertutup. Sebuah kolaborasi yang luar biasa, bukan?

“Karena anti ingin aku jadi pasien pertama anti, kan? Tapi aku tidak stres, depresi apalagi gila, Ukhty”

Vivi tertawa. Dia sadar, kalau aku sudah menghapal dialog kami yang satu itu, sebagaimana hapalnya aku akan dialogku dengan mama soal menikah, berkeluarga dan punya anak.

“Irani Puja Effendy, sahabatku yang baik hati & tidak sombong. Aku tahu anti tidak stres atau depresi sebagaimana yang dituduhkan orang-orang yang tidak mengenal dirimu yang sebenarnya. Tapi Apa anti tidak kasihan sama mama anti? Tidakkah anti terlalu keras terhadap diri anti sendiri?”

“Duh, yang sudah laku. Aku baik-baik saja, Bu Dokter”

“Ingat usia Ran, ingat! Sebelum-sebelumnya mungkin anti bisa tanpa beban menolak ikhwan-ikhwan dengan alasan masih ingin menyelesaikan S2 hanya untuk menutupi kisah masa lalu itu. Tapi sampai kapan anti bisa lari? Anti sudah 26 tahun sek…”

“Namanya Dika”

Detik selanjutnya, Vivi terkejut, sebuah nama yang kuajukan berhasil memotong kalimatnya.

“Subhanallah! Aku mendengarkan, Ukhti”

“Mendengarkan apa? Mendengarkan kalau aku menerimanya dan bersedia taaruf lalu menikah dengannya? How can? Sementara dia punya nama lengkap Rahardika Anjana?”

“Ku pikir anti sudah sembuh” Vivi berkata lirih, aku menanangkap gurat kecewa di matanya.

“Aku tidak sakit, Dokter Vivi! Aku baik-baik saja”

“Trauma! Walaupun bukan raga yang digerogotinya, Itu termasuk penyakit, Ukht!? Apa menurutmu setiap pria yang punya nama belakang Anjana ada hubungannya dengan pria masa lalumu itu?”

“Tapi yang menyandang nama belakang Anjana jarang sekali, Ukht. Coba kalau Purnomo, Wardoyo, Wijaya atau apalah. Aku masih bisa berpikir kalau itu hanyalah kebetulan”

“Mengapa tak baca saja datanya lebih engkap?”

“Itu dia, aku takut menerima kenyataan jika harus mengetahui bahwa pria masa laluku itu ada di daftar saudara kandungnya. Jadi ketika Mba Lia memberikan biodatanya, baru membaca namanya saja aku sudah…..”

“Sudah pernah melihatnya?”

“Belum. Tapi kata Mba Lia dia pernah melihatku saat kami menjadi pembicara di sebuah pelatihan meski waktu dan materi yang kami bawakan berbeda”

“Istikharah, Ukhti”

***

Aku menimang-nimang biodata yang di tanganku, sedikit lega ketika aku tak menemukan sebuah nama yang bagiku lebih menakutkan dari pada kematian, ada di daftar saudara kandung dalam biodata itu.

Alert SMS ku berbunyi. My beloved Mom.

Irani, Mama yakin, setelah lebih sepuluh tahun tak pernah pulang, tidak lama lagi kamu akan mau ke Kendari. Kamu tahu walikota yang terpilih sekarang? Dia seorang Magister Engineering. Mater piece kampanyenya adalah jembatan yang membelah teluk Kendari. Bukankah itu keinginanmu? Dengan begitu kamu bisa nyampe rumah tanpa harus melewati Kendari beach. Pulanglah, manfaatkan gelar Magister Teknikmu itu untuk membangun Kendari

Sebagai anak tunggal, aku bisa memahami perasaan mama. Perempuan mana yang tak ingin menikah, membina keluarga islami lalu punya anak soleh yang bisa menjadi aset bagi orang tuanya di akhirat kelak? Kalaupun hingga saat ini aku masih belum berpikir ke arah sana, adalah karena aku terjebak oleh masa lalu yang bahkan aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bisa keluar. Tak ada yang tahu, karena terkadang diam saja bagiku sudah cukup untuk menyembunyikan cinta. Meskipun sebagai konsekuensinya, aku butuh ruang yang lebih luas untuk bernafas karena terlalu lelah.

Tapi Vivi pun tahu akhirnya, sedang mama tidak. Mama hanya tahu kalau aku tak mau pulang karena satu-satunya jalan untuk bisa mencapai rumah dari bandara adalah dengan melewati Kendari Beach. Selebihnya, mama tak pernah tahu. Bahwa aku ingin menjadi arsitektur agar aku bisa membangun jembatan yang melintasi teluk Kendari. Dengan begitu, aku bisa sampai rumah tanpa harus lewat Kendari Beach.

Aku pernah bercita-cita untuk menjadi Fatimah yang berani mengatakan, “Bahkan setan pun tidak tahu kalau aku sudah jatuh hati kepada Ali, jauh sebelum kami menikah”. Namun aku gagal. Perasaanku padamu terlalu besar untuk ku sembunyikan, setanpun tahu kalau aku hanyalah perempuan lemah yang tak bisa keluar dari penjara kisah lampau, hingga ia memperdayaiku.

Hujan di Kendari Beach. Adalah kisah yang ku kemas rapi di dasar sana, ku titipkan ia di basement hatiku. Tapi hujan selalu sanggup membuat kisah yang ku kira sudah terkubur itu, terkais kembali. Seperti malam ini, ketika hujan kembali menyapa Makassar dengan derasnya.

***

Kendari Beach, ketika senja mulai merapat ke malam. Masih dengan seragam putih biru, seusai menjemputku les sekolah, kamu mengajakku singgah di tempat pertamakali aku mengenalmu di bazar OSIS sekolahku dulu.

“Puja, aku mau kita putus”

Deg! Rasa Kaget, bingung, dan kecewa berkolaborasi menjadi rasa yang mengacak-acak hati dan pikiranku saat itu.

“Pu..putus? Apa salahku, Asta?”

“Karena kamu adiknya Arif”

Masih bingung,ku rasakan pacuan adrenalinku sedang di atas normal. Kamu melanjutkan kalimatmu.

“ Arif telah memutuskan Valizha, adik kesayangan aku. Sekarang kamu tahu kan mengapa aku berpura-pura jadi pacar kamu selama 3 bulan ini? Aku dendam terhadap kakak kamu. Aku ingin dia merasakan seperti yang aku rasakan, sakit hati bila melihat adik kesayangannya dilukai”

“Kak Arif sudah meninggal”

“Tapi bukan berarti luka di hati adikku bisa ikut hilang, kan? Selamat tinggal, Puja! Aku punya pacar, teman sekelasku di SMA sekarang. Aku mencitainya dan ketahuilah, jika ada yang tak bisa ku bagi padamu, maka itu adalah hatiku!”

Satu keputusan mendadak telah kudapatkan; pergi dari tempat menyesakkan ini. Bumi yang ku pijak rasanya semakin sempit, seakan langit runtuh lalu menimpaku. Terburu-buru aku menyetop taksi, menerobos gerimis yang makin kental di Kendari Beach, sepekat mendung yang menggantung di langit. Sedang senja semakin menua. Telaga di mataku yang sedari tadi coba ku pertahankan, jebol sudah.

Mataku panas. Hatiku tertohok. Tanpa banyak kata, kini ku sadari apa yang sebenarnya terjadi.

Valizha sahabatku, tapi persahabatan itu harus terceraikan oleh sakit hatinya terhadap Kakakku. Valizha juga pacar Kak Arif, tapi kisah mereka kandas karena alasan yang tak ku ketahui, dua minggu sebelum kecelakaan motor merenggut nyawa kakak sematawayangku itu. Dan Valizha juga ternyata adikmu. Aku tak pernah tahu, karena valizha ikut ortunya yang pindah tugas ke Kendari, saudaranya yang lain tetap di Kalimantan.

Valizha kemudian mengutus kamu yang belakangan ku ketahui baru ikut pindah ke kota ini beberapa bulan yang lalu untuk membalaskan sakit hatinya. Dan kalian sukses. Tidak butuh banyak waktu untuk membuatku jatuh hati padamu yang hadir di saat aku benar-benar butuh pengganti sosok Kakak kesayanganku, dan saat sahabat yang ku percaya mulai menjauhiku. Lalu mencampakkanku di saat yang tepat pula ketika aku butuh penguatan untuk menghadapi ujian akhir sekolah yang tinggal menghitung hari. Skenario yang mantap. Tentu saja dengan pengkhianatan yang teramat manis, sangat disayangkan untuk ku lupakan begitu saja. Sepanjang hidupku, inilah kisah cinta pertama seorang gadis belia yang paling tragis yang pernah ku temui. Dan yang lebih tragis lagi, akulah sang tokoh utamanya.

***

Malam ini aku ingin memikirkanmu untuk terakhir kalinya. Berminggu-minggu sudah aku tidak melakukannya, mengenangmu di tempat dulu, merindukanmu dari sudut jendela kamarku. Menghayati setiap detik menyakitkan yang menikam kalbu. Tentang perasaanku pada seorang anak manusia yang buta lagi tuli. Prasta Dewa Anjana. Ah, menyebut nama itu, ku rasakan gurat-gurat lelah bergayut akrab di jiwaku juga ragaku. Haruskah ku ceritakan lagi tentangmu? Rasanya kertas-kertasku sudah habis untuk menulis sesuatu tentangmu. Asta, demikian aku memanggilmu! Semua tahu, bagaimana pernah aku mencintaimu. Aku bahkan pernah rela memilih diduakan meski kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk memilih karena akhirnya kamu pergi dengan gadismu. Dan itu bukan aku.

Andai saja ada museum cinta. Mungkin akulah pemecah rekor yang mampu bertahan pada satu cinta selama sepuluh tahun. Bukan waktu yang singkat. Sepuluh tahun, sejak aku mulai bisa merasakan ombak yang gemuruh di balik dadaku ketika melihatmu dekat dengan yang lain. Hanya butuh tiga bulan untuk bahagia bersamamu. Tapi sayangnya aku harus menukarkan waktu tiga bulan itu dengan sepuluh tahun di masa depanku yang hampa, tinggallah kering kenang tentang cinta yang tersisa. Sebuah transaksi yang sangat tidak adil, bukan? Ribuan hariku berguguran bersama kenangan tetangmu, tetang senyummu , tentang caramu memanggil namaku yang berbeda dari yang lain, “Puja”

***

Rumah Vivi. Sepi merajut manja, seakan managih kata dari bibirmu. Sementara kita berdua masih membatu, tanpa kata yang terwakilkan.

“Siapa calon suami kamu itu?”

“Dari mana kamu tahu kalau aku akan menikah? Secepat itukah kabar ini beredar?” pandangku mengarah ke Vivi yang pura-pura sibuk dengan bacaannya di sudut ruangan itu. Menerima tatapanku, Vivi hanya mengangkat bahu sebagai isyarat “Bukan aku”

“Tidak ada yang berjalan lebih cepat daripada cahaya, kecuali beita buruk” itu jawaban kamu.

“Kamu bilang pernikahan berita buruk?” Aku mencoba tetap terkontrol.

“Bagiku berita pernikahan biasa saja. Tapi kali ini menjadi buruk karena yang akan menikah adalah orang spesial di hatiku. Dan jauh dari sana aku datang hanya untuk mendengar berita buruk ini? Berita ini bohong kan? Katakan kalau aku hanya salah dengar , Puja!”

Allahu Rabb! Sesaat kurasakan lonceng rindu di hatiku berdentang. Ya, aku rindu panggilan itu. Dan Hanya kamu yang memanggilku dengan nama itu.

“Berita itu benar, dan kamu tidak salah dengar” Entah dari mana aku sukses mengumpulkan daya untuk mengeluarkan suara pelan itu.

“Lalu cintamu padaku?” tanyamu penuh selidik.

“Ketahuilah! Itu bukan cinta. Itu hanyalah perasaan sayang seorang gadis remaja yang mabuk karena anggur masa muda. Kamu tahu sayang kan? Kemarin bilang selamanya, tapi hari ini bilang cukup sampai di sini saja. Seperti itulah perasaanku padamu dulu”

“Bukan cinta? Kamu pikir aku tidak tahu soal kisah-kisah cintamu yang tak pernah sukses itu, soal pria-pria yang kamu tolak itu? Aku juga tahu soal ambisimu untuk mengejar cita-citamu setinggi mungkin hanya untuk mengalihkan perhatianmu yang selalu terfokus pada traumamu. Masih berani kamu bilang itu bukan cinta? Kalau memang bukan, apa namanya semua itu?”

kalimat-kalimatmu yang menggerogotiku seperti seorang terdakwa yang mengajukan banding, tidak puas atas vonis sang hakim.

“Tahu apa kamu soal cinta? Orang yang berhak mmendikteku seperti itu hanyalah orang yang pernah mencintai seperti aku, bukan orang buta hati seperti kamu. Seenaknya meninggalkanku setelah berhasil menorehkan luka di hatiku, lalu kembali ketika aku mulai pulih. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa kamu terlahir hanya untuk melukaiku”

Pasca kalimatku yang satu ini, sebuah pemandangan yang nyaris mematikan jantungku terpampang di hadapanku. Vivi pun tak sanggup menyembunyikan kagetnya. Tentu saja Vivi paham, tak boleh meninggalkanku bicara berdua dengannya di ruang tamu rumahnya.

“Hentikan, Asta! Aku bukan Tuhan yang harus kamu sembah! Ini bukan sinetron-sinetron yang selalu kamu tonton itu. Jadi jangann harapkan ending yang bahagia”

Kena, kau! Aku sadar, sangat tidak pantas merasa menang melihatmu sakit hati. Tapi sisi kemanusiawianku kembali bekerja jika mengingat perlakuanmu padaku dulu. Ya Allah! Apa yang terjadi dengan pria ini? Aku memang ingin melupakkannya, tapi tidak dengan cara seperti ini. Membencinya. Terlebih ketika aku harus melihatnya menyembah di kakiku.

“Kamu boleh mengatakan aku tidak tahu diri. Tapi aku tidak perduli. Aku ingin menikahimu. Walau mungkin hatimu yang tersisa tinggal sedikit setelah engkau memberikannya pada orang lain, aku sudi menerimanya”

Sebenarnya aku masih ingin di sini menata hatimu, tak tega meninggalkanmu dalam kondisi berantakan seperti ini. Tapi kakiku yang menggagas untuk pergi bergerak lebih cepat. Ku lepaskan satu kalimat terakhir untukmu.

“Ketahuilah! Jika ada yang tak bisa ku bagi padamu, maka itu adalah hatiku”

Mendadak wajahmu mendongak kaget. Betapa tidak, itu kalimat terakhir yang kamu ucapkan dulu sebelum meninggalkanku untuk pergi bersama yang lain.

De javu. Aku merasakannya, seperti sepuluh tahun lalu. Berlari menerobos gerimis yang kian pekat untuk menyetop taxi. Meninggalkan rumah Vivi, juga kamu di dalamnya.

***

Siang tadi aku sudah melakukan yang tepat dengan meninggalkanmu. Tak ingin kesalahan yang lalu membuatku terperosok ke dalam lubang kekecewaan terulang kembali. Pun kalau aku akan jatuh lagi, bukan pada lubang yang sama. Tidak! Lihat cahaya bulan yang makin pucat itu! Tahukah kamu kalau sebenarnya ingin ia jelaskan bahwa antara kedua bibirmu yang dulu mengaku dengan lincahnya kalau ada yang lain di hatimu, ada rentang lukaku yang kian menganga?

Sepuluh tahun aku pernah terkapar di bukit kaca, di malam pekat sehitam jelaga. Aku tidak tahu rasa apa yang menggerogotiku selama sepuluh tahun itu. Benci atau kah cinta? Entahlah! Sebab jarak antara keduanya begitu tipis. Yang aku tahu, selama itu kamu menjelma sebagai udara di sekelilingku, kadang melegakan, tapi lebih sering menyesakkan. Perasaan itu tumbuh mengakar di taman sanubariku, bersarang di rimba jiwaku, terpatri di tugu hatiku. Sepuluh tahun. Perasan itu berkuasa di takhtaku, ku nobatkan sebagai lukisan terindah di galeri kalbuku dan nada termerdu di setiap nyanyian sunyiku.

Hingga aku berpikir, jika ada yang tak pernah berubah dalam hidup ini, maka itu adalah perasaanku padamu. Tapi ternyata semuanya bisa berubah. Apalagi hanyalah soal perasaan. Karena Allah Maha membolak-balik hati manusia.

Hand phoneku berbunyi. Sederet nomor asing terpampang di inbox.

Puja, sebenarnya selama ini aku selalu tahu banyak hal tentangmu.Tentang aktivitasmu, tentang sahabatmu. Jadi jangan heran jika Vivi kaget ketika tiba-tiba aku muncul di hadapan rumahnya dan minta tolong untuk mempertemukan kita. Aku mengamatimu jauh dari sana. Tak punya keberanian, katamu? Ya, tentu! Hingga kabar pernikahanmu memaksaku untuk keluar dari persembunyianku. Cemburu? Sangat, tapi tidak buta! Karena akhirnya aku tahu kalau pria beruntung itu adalah Dika, saudara sepupuku. Ku harap kamu tidak kaget. Dia pria yang baik, tidak seperti aku. Asta.

Sebuah pesan singkat darimu.

Aku tahu, kalau hari ini akan tiba, dimana sang waktu akhirnya bersedia agar aku melepaskanmu, sebagaimana dulu ketika ia mengizinkanmu masuk dan terlibat dalam duniaku. Kini aku hanya butuh sepotong malam yang tenang, istikharah kepada Rabb-ku agar aku bisa menatap masa depanku bersama yang lain dengan elegannya, tanpa luka dan sakit lagi.

(Sesesorang yang aku kagumi lewat tulisan dan laku tutur: E R)

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s