Peradaban Dalam Dunia yang Tak Sempurna


“Sejenak kau kupandangi, batas cakrawala”
Sebait nada diantara beberapa kata dalam seutuh lirik seakan menggambarkan panorama keindahan hidup diantara sisi dunia yang terapit penatnya hidup kala melintasi ruang dan waktu. Kalau waktu menggambarkan proses panjang yang terus bermetamorfosa dalam keabadian yang tidak nyata, maka kehidupan jauh terpampang mendera nyata, kala waktu tiada lagi dapat tergapai.

Perputaran roda kehidupan kian laju mengubah hari yang terkadang indah namun tiada nyata. Inilah dunia yang penuh dengan cerita dalam sepenggal adegan, yang oleh sang maha sutradara telah diatur sedemikian apik membentuk pola simetris dan tak beraturan, menjadi mendung yang mengalir basah.

Satu adegan telah paripurna dalam gubahan penuh pesona. Kadang seketika terasa hambar menjadi lengkingan yang tak terdengar namun dalam jangkauan yang tak terukur. Seribu juta tahun hanyalah hitungan berwarna cokelat tertelah utuh dunia fana. Sang maha sutradara telah mengatur warnanya, menjadi hitam dalam gelap mengepul bebas dalam cerobong waktu. Satu menjadi sejuta terangkai bagai warna pelangi ketika sore tek lagi terasa sama. Dunia tentang kebebasan yang terukur menjadi dasar-dasar filosofi biru mengalun perlahan dalam alurnya lalu terbang riuh rendah. Perjalanan penuh peluh melintasi meja berkaca bundar, dengan estetika yang tak terasa.

Menghirup angin dipagi ini kadang terasa aroma kopi. Semesta alam tak sejinak dahulu, sewaktu perang belum lagi berakhir. Ini bukan tentang kesalahfahaman antara otak kiri dan otak kanan, melainkan ketidak teraturan hati dan pikiran. Mencerna sesuatu yang tiada nyata, kadang nyata dalam ketidak-nyataan. Dialah lakon yang memainkan peran dalam sesuatu yang tidak terbaca, Dialah kini adalah saat ini memainkan lakon dalam sebuah peran. Satu memang kadang terasa abstrak tersusun rapi dalam lemari. Seember kata hanyalah kata yang dinyatakan lakon dalam peran yang maya. Namun dalam suatu kehendak biru dapat saja dia menerka, sebiru langit dalam lautan menjadi kebingungan yang tak terdefinisi.

4 comments

  1. Sekental warna gula merah begitu pula kentalnya hidup yang sangat membingungkan untuk ditelaah dengan mata telanjang seperti para bule yang bergeroyongan dibibir pantai untuk sesuatu yang namanya menikmati hidup. Merdekaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa😀😀😀

  2. pak beye harus punya orang-orang yang terus mensupport…
    siapa yang mau menssupport kalau sudah mirip autopilot begini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s