Aku dan Perempuan yang Mencintaiku

Tiba-tiba saja aku ingin berbicara tentang cinta, sebuah rasa yang belakangan senantiasa menjengukku dalam sebuah ketidaktahuan. Namun ternyata kali ini aku gagap. Memoriku macet. Thalamusku tak berkerja. Neuron sensorikku tak berfungsi. Duhai, cinta apa yang pantas aku persembahkan untuknya?
Untuk seorang perempuan yang rela menukarkan hidupnya untukku, yang dari rahimnya aku dilahirkan, yang dari tangan lembutnya aku dibesarkan, yang dari bahunya aku disandarkan sambil menumpahkan air mataku? Cinta yang mengharu birukah? Atau merah meronakah?

Bantu aku, Kawan! Sebab aku tidak pernah tahu. Aku hanya tahu kalau aku selalu mengingatnya hanya ketika aku butuh ruang untuk bernafas, ketika aku butuh penegak ketika goyah. Sementara ia selalu mengirimkan hati merah tua yang ia bungkuskan dalam sobekan doa melalui bayu yang merayap dekat rongga dadaku di hampir setiap pekatnya malam. Namun sayangnya hati merah tua itu selalu ku gores karena terkadang melalaikan nasehatnya.

Tapi kawan, mengapa kau ikut-ikutan gagu? Bingung mau jawab apa???

Jika iya, aku tak heran. Sebab sekalipun kau matikan matahari untuk membayar bunga derita dari perempuan seperti itu, tak kan pernah impas.

Wahai engkau, perempuan pemilik gudang kata maaf untuk buah hatimu! Alih-alih sanggup membayar utang jasamu, membuatmu bahagia pun sampai saat ini aku masih saja gagal. Lihatlah! Aku belum punya apa-apa selain masalah yang sering menuntut otakmu untuk kerja rodi. Tapi demi Allah, aku tak pernah bercita-cita untuk menjadi anak seperti itu.

Wahai engkau, perempuan yang sering tersakiti! Darimu aku belajar banyak tentang kehidupan. Tugasmu sebagai madrasah pertama bagi anak-anakmu sungguh kau laksanakan, hingga tidak berlebihan rasanya jika Rasulullah mengatakan bahwa surga ada di telapak kakimu. Engkau pun layak dilantik sebagai tiang negara.

Wahai engkau, perempuan bertulang baja! Mungkin aku belum bisa merasakan deritamu. Tapi aku tahu pasti jika tugasmu mengandung, melahirkan dan menyusuiku telah menggerogoti kalsiummu hingga memudar sudah warna tulangmu. Tapi kau senantiasa memekarkan kagum di taman sanubariku. Akan selalu ku ingat, bahwa kau orang pertama yang ku lihat setiap pulang kampung karena kau selalu menunggu kedatanganku di pintu rumah. Kau pula orang terakhir ku lihat ketika meninggalkan kampung halaman karena kau tak pernah alpa mempersiapkan perlengkapanku, mengantarku hingga kendaraan yang kan menjemputku kembali ke kota pencarian ilmu telah tiba.

Wahai engkau, perempuan tanpa air mata (mungkin saja ada tapi aku tak pernah melihat kau menumpahkannya, atau mungkin juga aku pernah melihatnya tapi aku lupa saking jarangnya)! aku tahu jika suatu nanti sang takdir akan berbicara bahwa tibalah saatnya untuk aku jauh. Dan ini bukan soal siapa yang meninggalkan atau ditinggalkan, karena toh kita tetap akan terpisah, entah sementara maupun selamanya. Melainkan soal siapa yang akan membuatku jauh. Dan jika saat itu tiba, aku hanya berharap jika yang datang itu adalah dia yang mencintaimu sebagaimana aku yang selama ini selalu berusaha untuk mencintaimu, lagi dan lagi.

Ibu, Bunda, Mama, Mami, Mom, Ummi, atau apapun gelar untukmu! Setelah Allah dan Rasulku, tak ada lagi yang mencintaiku sebagaimana engkau mencintaiku.

Afternoon, on rainy day.

(seseorang yang ku kagumi dalam tutur dan kata ER)

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s